Selasa, 29 Maret 2011

 

KESIMPULAN( IMAN YG SEMPURNA)

Sepanjang tulisan ini, kami telah menekankan bahwa sekedar mengatakan, “Kami beriman” atau memuja Allah dari tepi-tepi agama sejati tidak akan cukup untuk menyenangkan Allah. Sebaliknya, kami katakan, Allah akan senang terhadap kita jika kita yang terdepan dalam ketaatan, menjadi teladan bagi mukmin yang patuh, dan terus-menerus menunjukkan kemuliaan akhlak. Dalam buku ini, kami menghimbau kepada mukmin agar memiliki ketakutan dan cinta mendalam kepada Allah, tidak pernah menganggap akhlak sendiri sempurna, mencari sikap dan perilaku yang paling menyenangkan Allah di setiap saat dan memberikan perhatian pada nurani mereka.
Menjadi orang yang beriman sempurna bukanlah sasaran yang dapat digapai melalui upaya keras. Sebagaimana ayat, “Dan Kami akan memberimu taufik (petunjuk) kepada jalan yang mudah” (QS Al-‘Ala, 87: 8) memberitahu kita, seseorang dapat meraih keimanan sempurna hanya dengan ketulusan niat, bahkan jika niat itu masih amat baru. Dalam pengertian ini, tak masalah betapa tercela hidup yang dijalani seseorang di masa lampau, ia bisa, kapan pun, memulai hidup baru yang berlandaskan pada dasar penggapaian rida Allah.
Setelah menerangkan semua masalah ini, kini kami mendesak setiap orang untuk “bersegera”, yakni, tidak “menunda” mengambil keputusan penting sedemikian. Waktu yang diberikan kepada manusia sangat pendek. Kehidupan itu sependek “kedipan mata” atau “setengah hari”. Selama perjalanan waktu yang terbatas yang diberikan kepadanya ini, manusia harus berlomba melawan waktu dan bersegera mendapatkan iman yang sempurna dengan melibatkan diri dalam perbuatan baik. Allah menjanjikan SurgaNya bagi hamba-hambaNya yang bertekad taat, yang menjadi “terdepan dalam iman” dan bersegera mendekatkan diri kepada Allah. Di sana, mereka tinggal bersama para nabi, wali, syuhada dan mukmin yang tulus. Namun yang terpenting, mereka akan menemui Tuhan kita. Allah juga memberi mereka kabar gembira bahwa akan ada satu kata dari Tuhan mereka di sana: “Salam!”, yang merupakan ganjaran terbaik bagi seorang mukmin:
Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta.

(Kepada mereka dikatakan): "Salam" sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. (QS Ya Sin, 36: 55-58)

Dan barang siapa yang menaati Allah dan rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, para shiddiqien, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui. (QS Al-Nisa, 4: 69-70)



Jadi, bersegeralah meraih ganjaran ini, untuk tinggal bersama para nabi dan mereka yang beriman sempurna di taman-taman surga sebagai mukmin yang telah menggapi rida Allah dengan bertekad hidup dengan azas-azas keimanan sempurna, menjadi teladan bagi mereka yang mencintai dan menakuti Allah. Allah mendesak semua mereka yang ingin meraih keselamatan agar hidup dengan nilai-nilai Qur'an. Mereka digambarkan sebagai “Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya, surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. (QS Al-Furqan, 25: 73-76)


ORANG-ORANG BERIMAN
SEMPURNA DALAM QUR’AN


Orang-orang yang beriman sempurna dijelaskan dalam sejumlah ayat Qur'an dalam makna-makna berikut:
Kutipan dari Qur'an Depag:

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS Yunus, 10: 63)

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik)… “ (QS Al-Anam, 6: 82)

“(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepadaNya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah.” (QS Al-Ahzab, 33: 39)

“… Dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepadaNya.” (QS Al-Anbiya, 21: 28)

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah," kemudian mereka tetap istiqamah…” (QS Al-Ahqaf, 46: 13)

“… Mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.’” (QS Al-Imran, 3: 173)

“(Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka…” (QS Al-Hajj, 22: 35)

Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. (QS Al-Rad, 13: 21)

“…Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun denganKu ….” (QS Al-Nur, 24: 55)

“…mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit …” (QS Al-Imran, 3: 199)

---- Al-Baqarah ayat 3 tidak cocok, yang paling mendekati adalah ayat 46 berikut ---

“(Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepadaNya.” (QS Al-Baqarah, 2: 46)
“Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan.” (QS Al-Ma’arij: 70: 26)

“Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib ...” (QS Al-Baqarah, 2: 3)

“(Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihatNya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat.” (QS Al-Anbiya, 21: 49)

“Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS Al-Baqarah, 2: 4)

“Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al-Kitab…” (QS Al-A’raf, 7: 170)

“Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat..” (QS Al-Baqarah, 2: 3)

“(yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS Al-Mukminun, 23: 2)

“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (QS Al-Mukminun, 23: 9)

“Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.” (QS Al-Ma’arij, 70: 23)

“… Mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap… “ (QS Al-Sajdah, 32: 16)

“(yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal.” (QS Al-Nahl, 16: 42)

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya.” (QS Al-Mukminun, 23: 5)

“Dan orang-orang yang menunaikan zakat.” (QS Al-Mukminun, 23: 4)

“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi atau terang-terangan, serta menolak kejahatan dengan kebaikan… “ (QS Al-Rad, 13: 22)

“(Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian.” (QS Al-Rad, 13: 20)

“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” (QS Al-Ma’arij, 70: 32)

“…Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar.. “ (QS Al-Taubah, 9: 71)

“Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya.” (QS Al-Ma’arij, 70: 33)

“(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS Al-Imran, 3: 17)

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka…” (QS Al-Imran, 3: 135)

“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (QS Al-Mukminun, 23: 3)

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka…” (QS Al-Syura, 42: 38)

“Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim, mereka membela diri.” (QS Al-Syura, 42: 39)

“… Orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka…” (QS Al-Hajj, 22: 35)

“… Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaanNya… “ (QS Al-Fath, 48: 29)

“(Yaitu) orang-orang yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.’” (QS Al-Imran, 3: 16)

“Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS Al-Mukminun, 23: 61)

“…Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud...” (QS Al-Fath, 48: 29)

“… Mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS Al-Bayyinah, 98: 7)

“Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan.” (QS Al-Ma’arij, 70: 35)

SEPERTI APAKAH ORANG
YANG BERIMAN SEMPURNA?


Iman kepada Allah macam apa yang Dimilikinya?
Ia mengetahui bahwa:
Tiada tuhan selain Allah,
Allah Yang menciptakan segalanya,
Allah Yang mengatur segala urusan,
Hati ada dalam genggaman Allah,
Allah meliputi segala sesuatu,
Dialah Yang menetapkan takdir manusia,
Dia Maha Kuat dan melakukan apa yang Dia kehendaki,
Allah Maha Mengetahui dan Maha Mendengar,
Allah Pemelihara segala sesuatu,
Dia mengetahui semua yang gaib,
Dia Maha Kaya Tanpa Membutuhkan dan tinggi mulia di atas segala sesuatu,
Dia tidak melahirklan dan tidak dilahirkan,
Dia tidak tersesat dan tidak pula Dia lupa,
Dia Raja Kerajaan,
Dia Pewaris Tunggal,
Dia hidup,
Kekuatan dan kehormatan milik Allah,
Dia selalu menang dan Maha Perkasa,
MilikNya Nama-Nama Terindah,
Dia Maha Kuat, Maha Bijaksana,
Dia lebih dekat kepada hambanya daripada urat nadi lehernya,
Allah mengetahui hal-hal terkecil dalam benak kita,
Ia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi lagi,
Dia Maha Adil,
Dia Maha Pengasih dari semua pengasih,
Dia Maha Pemaaf,
Dia Maha Penyayang,
Dia Penerima Taubat,
Dia mengabulkan doa yang tulus,
Dia Maha Pemberi Balasan,
Dialah Yang mengajarkan segala sesuatu,
Dia Pemberi Peringatan,
Dia memberikan kehidupan kepada yang mati dan menciptakan Hari Perhitungan,
Dia menolong mereka yang menolong agamaNya, di dunia dan di hari kemudian,
Janji Allah adalah benar,
Dia menciptakan neraka bagi kafirin dan surga bagi mukmin.

Ketakutan kepada Allah Macam Apa yang Dimilikinya?
Ia takut hanya kepada Allah dan menaati larangan-laranganNya,
Ia tidak takut kepada apa pun kecuali Allah,
Ia takut kepada Allah sebanyak yang ia bisa,
Ia merasa bahwa Dialah yang menaruh ketakutan kepada Allah dan keimanan dalam hati seseorang,
Ia mengalami ketakutan ini tidak hanya pada masa-masa susah, melainkan juga di masa-masa senang,
Ia tidak melupakan bahwa Allah mengetahui apa yang disimpan hatinya, semua rahasia, dan bahkan yang lebih tersembunyi,
Ia mengingat bahwa Allah melihat segala sesuatu,
Ia berperilaku baik, mengetahui ia akan bertanggung jawab kepada Allah atas semua perbuatannya,
Ia sangat memperhatikan apa yang halal dan yang haram,
Apa pun yang dikerjakannya berdasarkan pada ketakutan kepada Allah,
Ia berpaling kepada Allah untuk semua perbuatan dalam mana ia terlibat,
Ia merasa bahwa hanya Allah Yang menghukum,
Ia merasakan ketakutan kepada Allah, ancamanNya dan hukuman Neraka,
Ia tidak melupakan bagaimana Allah menghukum para pendosa yang mendahuluinya,
Ia memiliki ketakutan yang hormat dan kuat kepada Allah.

Keimanan Macam Apa yang Dimilikinya?
Ia memiliki keimanan yang berlandaskan seluruhnya pada ketakutan dan cinta kepada Allah,
Karena ketakutan dan cinta mendalamnya kepada Allah:
Ia menyembah hanya Allah,
Ia menghormati Allah di atas segala sesuatu,
Ia mencari tiada tuhan selain Allah,
Ia tidak menyekutukan siapa pun dengan Dia,
Ia mengetahui bahwa semuanya berasal dari Allah,
Ia mengetahui Allah selalu bersamanya dan melihat apa pun yang diperbuatnya,
Ia sadar bahwa tujuan utama dalam tiap saat kehidupannya adalah meraih rida Allah,
Ia mengabdikan seluruh hidupnya kepada Allah,
Ia seksama menaati larangan-larangan Allah,
Ia menyadari kelemahan dirinya di hadapan Allah,
Ia menganut sikap taat terhadap kata-kata Allah,
Ia hanya mempercayai Allah,
Ia mengerti bahwa Allah satu-satunya penolong,
Ia mengingat Allah tanpa henti,
Ia seksama mematuhi Qur'an,
Ia selalu bersyukur kepada Allah,
Ia mempercayai Hari Kebangkitan dengan keyakinan,
Ia mencegah orang lain terperdaya oleh kehidupan dunia ini,
Ia merasakan tiada ketakutan akan masa depan,
Ia merasakan adanya kebajikan dalam segala sesuatu,
Ia berpaling kepada Allah dalam setiap perbuatan,
Ia mengingat semua kenikmatan yang dimilikinya berasal dari Allah,
Ia merasakan kepatuhan sepenuh hati kepada Allah, perintah-perintahNya, dan para nabiNya,
Ia tidak membiarkan Setan mempengaruhinya,
Ia selalu bertindak sesuai dengan nuraninya,
Ia memiliki keadaan jiwa yang berpaling hanya ke arah Allah,
Ia mengangkat hanya Allah dan mukmin sebagai sahabat,
Ia berjuang lebih mendekat kepada Allah,
Ia merasa bersyukur kepada Allah setiap saat,
Ia tidak melupakan untuk diam-diam atau terbuka mengeluarkan harta demi tujuan Allah,
Ia bulat dalam tekadnya menerapkan kesabaran dalam setiap kesukaran,
Ia menunjukkan kemuliaan akhlak,
Ia terus-menerus memperlihatkan sifat-sifat mukmin,
Ia menjadi yang terdepan dalam perbuatan baik.

Pengertian akan Nasib Macam Apa yang Dimilikinya?
Ia mengetahui bahwa:
Segala sesuatu telah diciptakan menurut takdir,
Allah telah menetapkan setiap peristiwa, dari kelahiran hingga kematian,
Setiap peristiwa terjadi tepat di saat yang Allah tetapkan,
Ia harus berendah hari di hadapan Tuhannya,
Ketaatan sepenuh hati kepada Allah adalah bernilai yang diakui,
Allah melihat segenap waktu dalam satu saat,
Ia harus berpasrah diri kepada Allah,
Tidak masalah apa yang dilakukannya, Allah Yang akan menentukan hasilnya,
Jika ia memasrahkan diri kepada Allah sepenuhnya, ia tidak akan pernah berduka,
Ia mesti puas dengan setiap citra yang diciptakan Allah,
Menyadari bahwa segala sesuatu yang menimpanya datang hanya dari Allah:
Ia tidak menjadi gusar,
Ia tidak merasakan duka maupun kegelisahan,
Ia tidak panik,
Ia tidak berputus asa,
Ia tidak merasakan resah,
Ia tidak merasakan amarah,
Ia tidak mengatakan “andai kata”,
Ia tidak memberikan tanggapan yang tiba-tiba dan berlebihan,
Ia tidak berduka atas kematian,
Ia tidak merasa menyesal atas apa yang ia kehilangan atau apa yang menimpanya.

Nalar dan Kebijaksanaan Macam Apa yang Dimilikinya?
Ia memiliki nalar dan kebijaksanaan sedemikian yang membuatnya mampu untuk:
merenungkan Qur'an sepantasnya,
menilai segala sesuatu sesuai dengan nalar Qur'an,
memikirkan adanya kebajikan dalam segala sesuatu karena itu datang dari Allah,
menaati nuraninya dalam semua perbuatannya,
memikirkan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah,
mencoba melihat maksud dan kebajikan yang tersembunyi di balik setiap peristiwa,
mengingat Allah saat berdiri, duduk, dan berbaring,
merenungi dalam-dalam keberadaan Allah dan cita rasa seni dalam ciptaanNya,
terutama mencari-cari dan merenungi hal-hal ke yang mana Allah menarik perhatian dan tanda-tanda penciptaan,
menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya dalam Qur'an,
mencari pemecahan masalah-masalahnya dalam Qur'an,
berpikir selalu sesuai dengan agama,
mencari perlindungan kepada Allah, jika godaan dari Setan mengganggunya,
berprasangka baik terhadap mukmin,
mempertimbangkan kebutuhan orang lain,
mendahulukan masalah menurut rida Allah,
membuat penilaian yang adil antara yang benar dan salah menurut nalar Qur'an,
memikirkan tentang penciptaannya sendiri,
memikirkan tentang Hari Perhitungan,
menerima peringatan, memikirkan tentang surga dan khususnya neraka,
membuat perhitungan atas dirinya sendiri.

Pengertian tentang Cinta Macam Apa yang Dimilikinya?
Ia mencintai Allah melebihi siapa pun dan apa pun,
Cinta yang dirasakannya terhadap Nabi SAW melebihi cinta yang dirasakannya terhadap orang lain,
Cinta yang dirasakannya terhadap mukmin adalah cinta yang berdasarkan pada rida Allah,
Orang yang paling dicintainya adalah siapa yang ia harapkan akan memperjuangkan terutama rida Allah dan yang paling taat,
Ia tidak memelihara cinta bergairah kepada kesenangan-kesenangan duniawi,
Ia tida meminta hadiah apa pun sebagai balasan atas perbuatan selain cinta Allah,
Ia tidak menyukai mereka yang menentang Allah dan RasulNya,
Cinta atau kebutuhan yang ia rasakan atas sesuatu tidak menghalanginya dari melepaskannya.

Bagaimana dan Tentang Apa Ia Berbicara?
Ia mengagungkan Allah dengan nama-namaNya yang paling indah,
Ia membela apa yang benar,
Tentang peristiwa-peristiwa yang ia harapkan terjadi di masa depan, ia mengatakan “Insya Allah” yang berarti, “dengan izin Allah”,
Ia mengagungkan Allah dengan kata-kata “Masya Allah” ketika menyaksikan keindahan sebagai cerminan cita rasa seni Allah,
Ia mengucapkan kata-kata yang yang ia harapkan akan menyenangkan Allah,
Selagi berbicara, ia mengingat-ingat ayat-ayat Allah,
Ia berbicara dengan bijaksana,
Ia berbicara seksama dan dalam cara yang mudah dimengerti,
Ia tidak berbicara tentang hal-hal yang sia-sia dan sepele,
Ia mempertimbangkan kebutuhan orang selama berbicara,
Ia tidak berbohong,
Ia berbicara kepada orangtuanya dengan cara yang amat hormat dan tidak pernah mengucapkan kata-kata yang melecehkan,
Ia berbicara dengan cara yang santun,
Ia menunjukkan amanahnya dalam pembicaraannya,
Ia berbicara dengan tulus dan sederhana,
Ia menghindari membicarakan rahasia,
Ia memperingatkan orang-orang,
Sesuai dengan Qur'an, ia mengucapkan “Salam” (selamat) ketika memasuki rumah,
Ia mengucapkan “Salam” (selamat) dan, tanpa berbicara, berlalu saat bertemu dengan orang-orang yang lalai,
Ia tidak mengucapkan kata-kata yang berisi fitnah,
Ia tidak turut serta dalam pembicaraan semacam itu dan berlalu dengan martabat,
Lewat cara bicaranya, ia mendorong perilaku baik dan menggentarkan perbuatan buruk,
Ia berbicara dengan nada sedang dan menghindari berbicara lantang,
Ia mengetahui bahwa ia bertanggung jawab atas setiap kata yang diucapkannya,
Ia tidak bersumpah untuk maksud yang sia-sia dan sepele,
Ia tidak melecehkan atau mengatakan yang buruk-buruk tentang seseorang ketika berbicara,
Ia tidak menjilat ludah (menarik kembali ucapannya),
Ia berbicara dengan cara yang mempengaruhi orang lain agar memperhatikan nuraninya.

Bagaimana Ia Berdoa dan Apa yang Dimintanya?
Ia berdoa dengan berpaling kepada Allah untuk segala sesuatu,
Ia berdoa hanya kepada Allah dan meminta pertolongan hanya dariNya,
Ia berdoa kepadaNya, mengetahui bahwa Allah mengabulkan setiap doa,
Ia berdoa dengan mengetahui bahwa Allah lebih dekat kepadanya daripada urat nadi lehernya dan Dia mengetahui apa yang dipikirkannya setiap saat,
Ia berdoa dengan mengagungkanNya dengan nama-namaNya yang paling indah dan merenungi makna nama-nama itu,
Ia berdoa tanpa menentukan batas bagi keinginannya dari Allah,
Ia berdoa kepadaNya, mengetahui bahwa sebuah doa tidak mesti dalam bentuk tertentu, dan bahwa setiap perbuatan yang dilakukannya untuk menggapai rida Allah adalah sebuah doa,
Ia berdoa kepadaNya, mengetahui bahwa tidak perlu suatu tempat khusus untuk berdoa, karena orang boleh berdoa di mana pun kapan pun,
Ia berdoa kepadaNya dalam cara yang paling hormat,
Ia berdoa tidak hanya di masa-masa susah atau membutuhkan, namun juga di masa-masa kelapangan dan kekayaan,
Ia mengucapkan syukur atas nikmat-nikmat yang dianugerahkan kepadanya sebagai jawaban atas doa-doanya,
Doa-doanya tulus,
Ia berdoa kepada Allah berendah hati dan diam-diam,
Doa-doanya tidak dimaksudkan agar mengesankan orang lain,
Ia berdoa kepada Allah dalam ketakutan dan harapan membuncah,
Ia berdoa bagi para nabi dan mukmin sebanyak bagi dirinya sendiri,
Ia berdoa bagi kesehatan, keselamatan, ketenteraman, kesejahteraan, dan kekuasaan mukmin,
Ia berdoa demi didekatkan kepada Allah, diberhasilkan, dihidupi dengan akhlak agama dalam cara terbaik dan disabarkan dalam memperlihatkan nilai-nilai akhlak yang menyenangkan Allah,
Ia berdoa bahwa Allah akan memberinya apa pun yang terbaik di dunia ini dan di akhirat, dan menambahkan nikmat-nikmatNya baginya,
Ia berdoa agar musuh-musuhnya akan dipermalukan dan dihukum atas apa yang mereka perbuat,
Ia mengambil doa-doa para nabi yang disebutkan Qur'an sebagai teladan bagi dirinya.

Pada akhir doanya, ia mengagungkan Allah, mengucapkan "Alhamdulilaahi Rabbil`aalamin.” (QS Yunus, 10: 10).

Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]





<< Beranda

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Berlangganan Entri [Atom]